Jumat, 29 September 2017

Naskah Musikalisasi Puisi



Selamat sore, Generasi Inovatif!

Wah, sudah H-21 nih!!! Sudahkah kamu mendaftarkan diri dan sekolahmu di kompetisi bahasa dan seni antar pelajar SMA se-Lampung yang paling keren, Semarak Bahasa dan Seni 2017? Wah, kalau belum ayo segera daftarkan diri dan sekolahmu ya!!!

Nah, untuk kamu yang mendaftarkan diri ke cabang lomba Musikalisasi Puisi, berikut beberapa puisi yang bisa kamu bawakan saat kompetisi nanti.





JALAN SETAPAK
By : Iswandi Pratama


Engkau jalan setapak di pinggiran tanjungkarang
Meliuk di pinggang bukit, lempang di landai pantai
Rumpang-lesuh di kampung kumuh

Di minggu pagi,
Orang-orang, sebagian kecil orang di kota ini
Merayakan akhir pekan, melintasimu sambil menduga-duga


Seberapa dekat ujungmu pada tanjung
Seberapa hampir tubirmu pada pasir
Seberapa hirap harapmu pada lanskap

Tapi bagi para peronce perih
Engkau tak lain rima di runcing lidah
Syair yang gampang menggerung getir

Umpama buku, sampul mereka kuning semata
Terlalu ricu pada sandi sebab takut terduga
Bila luka, merah mereka meriah rona

Maka datang lagi aku ketika mereka lelah-jemu
Di hari-hari sibuk, di terik tarikh
Mengetam kerak ngilu di sekujurmu

Engkau jalan setapak yang mengantarku
Ke hutan di pinggiran tanjungkarang
Hutan yang belum pernah mereka temukan





  

MERAH PUTIH GENTING
By : Iyut Fitra


(seratus lilin seperti tak redup. seratus tahun serasa kemaren
bung, inilah kisah tentang ranah)

Setapak tepian yang tertinggal, lembah lembab
Barangkali angin pun masih setia, di sana dulu segala kau pesankan
Tuah dan petitih, biduk dengan pendayung, sepancang tonggak
Hingga geliat kibar bendera
Maka di selaksa jejer pulau melati pun harumlah
Lalu di setiap kolam-kolam teratai pun kembanglah
Harumlah, kembanglah
Indonesia, napas yang terpancang. Menderap gegas memburu
Arah baru
Dan kau berdiri tepat di sisinya
Meminang jejak sejarah, memainkan lagu waktu yang tak tersimak
Sampai akhirnya kereta itu datang juga; ke digul, ke digul!
Ke tempat di mana sepi ternyata tak berkutik
Selain sesungging senyum, segelas teh panas dan kacang goreng
Selebihnya mungkin jejak panjang tentang cinta yang hilang

Waktu yang tak bertekuk
Musim terus tua
Begitu segala tampak lelah dalam perguliran

Berapa kali kata terbingkai. Berapa suluh yang telah menyala
Dan negeri itu kini serupa tersia
Kota-kota melumut

Benang-benang merah putih genting dari ujung ke ujung
Mengusuti hari-hari debu. Hari-hari penuh mesiu
“mengapa retak juga akhirnya cinta ini?
Mengapa belah juga gemburnya tanah ini?”
Di tanah kusir, tanah yang kau minta sendiri
Mungkin kau dengar keluh orang-orang di jalan
Di ranjang
Di meja makan atau di tiang-tiang bendera yang tak kokoh
Betapa perjalanan setelah tahun-tahun kesunyian
Tampak seperti langkah-langkah luka
Dan tua
Karena di tiap tapal orang-orang berlomba mencuri demi nasib
Sendiri-sendiri
Dan kau di sana, adakah tengah menangis, atau sedang
Belajar dansa

(seratus lilin seperti tak redup. seratus tahun serasa kemaren
ah, bung. istirahat sajalah!)

Payakumbuh






BUNGA DAN TEMBOK
By : Wiji Thukul


Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri

Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!



 


PADA SUATU HARI NANTI
Karya : Sapardi Djoko Damono

Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau takkan kurelakan sendiri

Pada suatu hari nanti
Suaraku tak terdengar lagi
Tapi di antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap kusiasati

Pada suatu hari nanti
Impianku pun tak dikenal lagi
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya kucari






CINTAKU JAUH DI PULAU

By : CHAIRIL ANWAR

 

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.
Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”
Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.



Naskah-naskah puisi ini bisa diunduh di link di bawah ini:
Naskah Musikalisasi Puisi, La Chansons dan La Poesie 

Jangan lupa daftarkan diri dan sekolahmu yaa! Jadilah Generasi Inovatif masa kini! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar