Selamat sore, Generasi Inovatif!
Wah, sudah H-21 nih!!! Sudahkah kamu mendaftarkan diri dan sekolahmu di kompetisi bahasa dan seni antar pelajar SMA se-Lampung yang paling keren, Semarak Bahasa dan Seni 2017? Wah, kalau belum ayo segera daftarkan diri dan sekolahmu ya!!!
Nah, untuk kamu yang mendaftarkan diri ke cabang lomba Musikalisasi Puisi, berikut beberapa puisi yang bisa kamu bawakan saat kompetisi nanti.
JALAN SETAPAK
By : Iswandi Pratama
Engkau jalan setapak di
pinggiran tanjungkarang
Meliuk di pinggang bukit,
lempang di landai pantai
Rumpang-lesuh di kampung
kumuh
Di minggu pagi,
Orang-orang, sebagian kecil
orang di kota ini
Merayakan akhir pekan, melintasimu
sambil menduga-duga
Seberapa dekat ujungmu pada
tanjung
Seberapa hampir tubirmu
pada pasir
Seberapa hirap harapmu pada
lanskap
Tapi bagi para peronce
perih
Engkau tak lain rima di
runcing lidah
Syair yang gampang
menggerung getir
Umpama buku, sampul mereka
kuning semata
Terlalu ricu pada sandi
sebab takut terduga
Bila luka, merah mereka
meriah rona
Maka datang lagi aku ketika
mereka lelah-jemu
Di hari-hari sibuk, di
terik tarikh
Mengetam kerak ngilu di
sekujurmu
Engkau jalan setapak yang
mengantarku
Ke hutan di pinggiran
tanjungkarang
Hutan yang belum pernah
mereka temukan
MERAH PUTIH GENTING
By : Iyut Fitra
(seratus lilin seperti tak redup.
seratus tahun serasa kemaren
bung, inilah kisah tentang ranah)
Setapak tepian yang tertinggal,
lembah lembab
Barangkali angin pun masih setia, di
sana dulu segala kau pesankan
Tuah dan petitih, biduk dengan
pendayung, sepancang tonggak
Hingga geliat kibar bendera
Maka di selaksa jejer pulau melati
pun harumlah
Lalu di setiap kolam-kolam teratai
pun kembanglah
Harumlah, kembanglah
Indonesia, napas yang terpancang.
Menderap gegas memburu
Arah baru
Dan kau berdiri tepat di sisinya
Meminang jejak sejarah, memainkan
lagu waktu yang tak tersimak
Sampai akhirnya kereta itu datang
juga; ke digul, ke digul!
Ke tempat di mana sepi ternyata tak
berkutik
Selain sesungging senyum, segelas
teh panas dan kacang goreng
Selebihnya mungkin jejak panjang
tentang cinta yang hilang
Waktu yang tak bertekuk
Musim terus tua
Begitu segala tampak lelah dalam
perguliran
Berapa kali kata terbingkai. Berapa
suluh yang telah menyala
Dan negeri itu kini serupa tersia
Kota-kota melumut
Benang-benang merah putih genting
dari ujung ke ujung
Mengusuti hari-hari debu. Hari-hari
penuh mesiu
“mengapa retak juga akhirnya cinta ini?
Mengapa belah juga gemburnya tanah
ini?”
Di tanah kusir, tanah yang kau minta
sendiri
Mungkin kau dengar keluh orang-orang
di jalan
Di ranjang
Di meja makan atau di tiang-tiang
bendera yang tak kokoh
Betapa perjalanan setelah
tahun-tahun kesunyian
Tampak seperti langkah-langkah luka
Dan tua
Karena di tiap tapal orang-orang
berlomba mencuri demi nasib
Sendiri-sendiri
Dan kau di sana, adakah tengah
menangis, atau sedang
Belajar dansa
(seratus lilin seperti tak redup.
seratus tahun serasa kemaren
ah, bung. istirahat sajalah!)
Payakumbuh
BUNGA DAN TEMBOK
By : Wiji Thukul
Seumpama
bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah
Seumpama
bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi
Seumpama
bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika
kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam
keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!
Di manapun – tirani harus tumbang!
PADA SUATU HARI NANTI
Karya : Sapardi Djoko Damono
Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau takkan kurelakan sendiri
Pada suatu hari nanti
Suaraku tak terdengar lagi
Tapi di antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap kusiasati
Pada suatu hari nanti
Impianku pun tak dikenal lagi
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya kucari
CINTAKU JAUH DI PULAU
By : CHAIRIL ANWAR
Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri
gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.
Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”
Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.
Naskah-naskah puisi ini bisa diunduh di link di bawah ini:
Naskah Musikalisasi Puisi, La Chansons dan La Poesie
Jangan lupa daftarkan diri dan sekolahmu yaa! Jadilah Generasi Inovatif masa kini!
Naskah Musikalisasi Puisi, La Chansons dan La Poesie
Jangan lupa daftarkan diri dan sekolahmu yaa! Jadilah Generasi Inovatif masa kini!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar